Dulu, kalau kita bicara soal perikanan, yang terbayang di kepala mungkin adalah sosok bapak-bapak dengan topi caping, membawa jaring yang berat, dan harus bangun tengah malam untuk menebak-nebak di mana ikan berada. Atau petambak yang harus rela tidur di pinggir kolam hanya untuk memastikan kincir air tidak mati.
Dulu, kalau kita bicara soal perikanan, yang terbayang di kepala mungkin adalah sosok bapak-bapak dengan topi caping, membawa jaring yang berat, dan harus bangun tengah malam untuk menebak-nebak di mana ikan berada. Atau petambak yang harus rela tidur di pinggir kolam hanya untuk memastikan kincir air tidak mati. Tapi sekarang, dunia sudah berubah. Teknologi pelan-pelan masuk ke dalam air. Bukan untuk menggantikan peran manusia, tapi untuk menjadi "asisten pribadi" yang sangat cerdas. Mari kita bedah pelan-pelan bagaimana teknologi ini bekerja tanpa membuat kening kita berkerut.
Butuh website untuk bisnis kamu? Klik disini
Bayangkan laut Indonesia yang begitu luas. Mencari gerombolan ikan di tengah samudra itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Dulu, nelayan kita hanya mengandalkan insting, melihat arah angin, atau mencari burung yang berputar-putar di atas air. Sekarang, ada teknologi bernama ZPPI (Zona Potensi Penangkapan Ikan). Caranya mirip seperti Google Maps, tapi khusus untuk ikan. Satelit di ruang angkasa memotret suhu air laut dan warna air (kadar klorofil). Ikan itu mirip manusia; mereka suka tempat yang suhunya pas dan banyak makanannya. Data dari satelit ini dikirim ke aplikasi di HP nelayan. Jadi, sebelum menyalakan mesin kapal, nelayan sudah tahu harus pergi ke koordinat mana. Hasilnya? Mereka tidak perlu keliling laut berjam-jam tanpa arah. Solar lebih hemat, kantong lebih tebal, dan yang paling penting, waktu untuk keluarga di rumah jadi lebih banyak.
Di dunia tambak udang atau ikan, biaya paling besar itu ada di pakan. Kadang, petambak terlalu banyak memberi makan, akibatnya pakan mengendap di dasar kolam, busuk, dan malah jadi racun buat ikan itu sendiri. Nah, sekarang ada alat pemberi pakan otomatis atau auto-feeder yang sangat pintar. Alat ini tidak cuma melempar pelet pakai jadwal, tapi dia punya "telinga" berupa sensor akustik bawah air. Alat ini bisa mendengarkan suara ikan saat sedang makan. Kalau suara "nyam-nyam" dari ikan masih kencang, alat ini terus mengeluarkan pakan. Tapi begitu ikan merasa kenyang dan berhenti makan, suaranya hilang, dan si alat otomatis berhenti. Ini benar-benar menghemat uang petambak dan menjaga air kolam tetap bersih. Ibaratnya, ikan punya pelayan pribadi yang tahu kapan mereka kenyang!
Ikan dan udang itu makhluk yang sangat sensitif. Kalau oksigen di air turun sedikit saja, mereka bisa stres atau bahkan mati massal dalam semalam. Dulu, petambak baru tahu airnya bermasalah setelah melihat ikan mengambang putih di pagi hari. Sedih, bukan? Sekarang ada alat kecil yang dimasukkan ke dalam air. Alat ini bekerja 24 jam memantau kesehatan air. Datanya langsung dikirim ke HP. Jadi, sambil minum kopi di ruang tamu, si petambak bisa mengecek: "Oh, oksigen di kolam A lagi turun, saya harus nyalakan kincir." Bahkan, teknologi ini sudah bisa dikoneksikan secara otomatis. Begitu sensor mendeteksi oksigen rendah, dia akan mengirim perintah ke saklar listrik untuk menyalakan kincir air tanpa harus disentuh manusia. Benar-benar seperti rumah pintar, tapi versi kolam ikan.
Kalau di jalan raya ada kamera tilang elektronik, di bawah air sekarang ada kamera pintar. Kamera ini bukan cuma buat merekam, tapi bisa menghitung jumlah ikan dan mengukur beratnya secara otomatis pakai Artificial Intelligence (AI). Kenapa ini penting? Karena kalau kita mau tahu berat ikan, biasanya ikan harus ditangkap dulu, diangkat dari air, lalu ditimbang. Proses ini bikin ikan stres dan bisa terluka. Dengan kamera pintar, kita cukup lewatkan kamera di depan ikan, dan sistem di komputer akan bilang: "Ikan ini beratnya sudah 500 gram, sudah siap dipanen." Praktis dan tidak menyakiti ikan.
Mungkin istilah blockchain terdengar berat, tapi bayangkan saja ini seperti buku catatan yang tidak bisa dihapus atau ditipu. Di dunia perikanan, ini dipakai untuk "kejujuran". Saat ini, pembeli di luar negeri sangat cerewet. Mereka tidak mau beli ikan yang ditangkap pakai bom atau racun. Dengan teknologi ini, setiap ikan punya kode QR unik. Saat kita scan di supermarket, muncul cerita lengkapnya: "Ikan tuna ini ditangkap oleh Pak Budi di perairan Maluku pada tanggal 10 Januari, menggunakan pancing ramah lingkungan." Ini membuat harga ikan dari nelayan jujur jadi lebih mahal dan dihargai tinggi. Kejujuran nelayan jadi ada harganya berkat bantuan teknologi digital.
Menjaga laut kita dari pencuri ikan itu susah sekali karena wilayah kita luas. Sekarang, ada drone laut yang bisa beroperasi sendiri tanpa awak. Drone ini bisa berpatroli berhari-hari di tengah laut untuk memantau jika ada kapal asing yang masuk tanpa izin. Selan itu, ada juga drone bawah air (ROV) yang bentuknya seperti kapal selam kecil dengan kamera. Kalau ada jaring yang tersangkut di terumbu karang atau ada pipa bocor di bawah laut, kita tidak perlu lagi menyuruh penyelam turun yang risikonya tinggi. Cukup kendalikan drone pakai joystick dari atas kapal.
Mungkin kamu bertanya, "Kenapa sih semua harus pakai teknologi? Pakai cara lama kan bisa?" Jawabannya adalah karena efisiensi. Penduduk dunia makin banyak, mulut yang harus diberi makan makin banyak, tapi sumber daya laut kita terbatas. Kalau kita masih pakai cara lama yang boros dan merusak, anak cucu kita mungkin tidak akan bisa lagi menikmati enaknya ikan bakar di masa depan. Teknologi ini hadir bukan untuk membuat nelayan jadi malas, tapi membuat mereka jadi lebih sejahtera. Dengan modal yang lebih sedikit (karena hemat bensin dan pakan), mereka bisa dapat hasil yang lebih pasti.
Cari Hosting murah hanya di Jagoweb
Dunia perikanan kita sedang bertransformasi dari "kerja otot" menjadi "kerja otak". Kita ingin melihat anak-anak muda zaman sekarang tidak lagi malu jadi nelayan atau petambak. Dengan bantuan teknologi, profesi ini jadi terlihat keren, modern, dan sangat menjanjikan secara ekonomi. Lautan kita luas, potensinya raksasa. Kalau kita kawinkan kekayaan alam tersebut dengan kecanggihan teknologi, Indonesia benar-benar bisa jadi juara dunia di sektor perikanan. Kita tidak lagi hanya jadi penonton, tapi jadi pemain utama yang memimpin teknologi perikanan global. Jadi, kalau nanti kamu melihat petambak udang yang lebih sering memegang tablet daripada memegang jaring, jangan heran. Dia sedang memastikan piring makan kita tetap terisi dengan ikan-ikan berkualitas tinggi yang sehat dan berkelanjutan.
Sedang mencari hosting cepat dan stabil atau domain profesional untuk website Anda? Jagoweb menyediakan solusi lengkap dengan harga terjangkau dan dukungan teknis terpercaya.
Order Now